Apa Itu Equity Crowdfunding? Yuk Kenalan dengan Platform Investasi Menguntungkan

Di masa teknologi dikala ini, sebutan sosial crowdfunding bisa jadi telah tidak asing di kuping kita. Adat warga Indonesia yang silih memikul royong amat sesuai dipadukan dengan rancangan social crowdfunding di mana banyak orang dapat berdonasi menolong orang lain dengan cara gampang dengan dorongan teknologi. Bila social crowdfunding telah diperoleh di Indonesia, kemudian bagaimana dengan equity crowdfunding? Apa itu equity crowdfunding dan bagaimana cara kerjanya? Mari simak penjabarannya berikut ini.

Apa itu Equity Crowdfunding?

Equity Crowdfunding( ECF) berawal dari tutur equity yang berarti modal, crowd yang berarti marak( khalayak) serta funding yang maksudnya membiayai. Dari kaum tutur itu hingga dapat dimaksud kalau penafsiran Equity Crowdfunding merupakan sesuatu aktivitas pendanaan yang dicoba oleh banyak orang( marak; khalayak) dalam wujud penempatan modal ialah saham( shareholder). Dengan cara singkat dapat diucap suatu media urun dana warga.

Rancangan crowdfunding itu sendiri awal kali dicetuskan di Amerika Sindikat pada tahun 2003 ialah pada suatu web bernama Artistshare. Web itu menggalang dana dari penggemar nada buat musisi supaya dapat menciptakan suatu karya.

Crowdfunding dibagi dalam 4 jenis yaitu:

  1. Crowdfunding basis donasi yaitu wadah urun dana bersifat donasi untuk kegiatan sosial seperti sekolah, panti asuhan, panti jompo dll.
  2. Crowdfunding basis hutang yaitu wadah urun dana seperti pinjaman hutang dengan imbalan bunga.
  3. Crowdfunding basis modal atau Equity Crowdfunding yaitu wadah urun dana berdasarkan porsi saham dengan imbalan kenaikan valuasi dan dividen.
  4. Crowdfunding basis hadiah/reward yaitu wadah urun dana yang memberikan hadiah (bukan hak) atas proyeknya seperti proyek games.

Pihak-pihak dalam Equity Crowdfunding

Kasus dalam sesuatu bidang usaha dengan rasio kecil ada dalam pembiayaan. Industri kecil umumnya sedang belum bisa penuhi persyaratan buat dapat mengakses pendanaan lewat hutang bank. Tetapi, ada pengganti pembiayaan lain lewat penempatan modal berbentuk saham. Dengan saham ini industri hendak memperoleh injeksi modal dari penanam modal tanpa wajib berhutang.

Pihak industri yang menginginkan modal diucap juga pencetak serta penanam modal( warga) yang membiayai diucap juga investor. Pencetak serta investor dijembatani oleh eksekutor, hingga Equity Crowdfunding( ECF) di mari ialah suatu produk pemodalan yang dikeluarkan oleh pihak eksekutor dari pencetak buat investor.

Legalitas Equity Crowdfunding di Indonesia

Aspek legalitas equity crowdfunding Indonesia diatur oleh OJK yang tertuang dalam POJK No 37 Tahun 2018 mengenai Layanan Urun Dana Lewat Ijab Saham Berplatform Teknologi Data. Peraturan ini menata seluruh perihal semacam program, penanam modal, sampai besaran duit yang bisa digabungkan dari ijab saham yang dicoba.

Karakteristik Equity Crowdfunding

Pihak eksekutor yang menjual produk ECF dapat diucap juga“ bursanya startup atau UMKM” sebab pihak eksekutor hendak jadi penyedia sekalian pengawas dalam penerapan equity crowdfunding.

Penawaran saham setiap penerbit harus dilakukan melalui penyelenggara yang telah memperoleh izin dari OJK dan penawaran saham dilakukan dalam jangka waktu paling lama 12 bulan dengan total dana maksimal dana yang dihimpun sebanyak Rp 10 Miliar.

Setiap pemodal dengan penghasilan Rp 500 Juta per tahun mempunyai batas maksimal investasi 5% dari jumlah pendapatan per tahun. Setiap pemodal dengan penghasilan lebih dari Rp 500 Juta per tahun mempunyai batas maksimal investasi 10% dari jumlah pendapatan per tahun. Aturan ini dikecualikan bagi pemodal yang merupakan badan hukum dan mempunyai pengalaman berinvestasi di Pasar Modal yang dibuktikan dengan kepemilikan rekening Efek paling sedikit 2 (dua) tahun.

Dalam ketentuan juga mengatakan kalau pencetak merupakan tubuh hukum Indonesia berupa Perseroan Terbatas dengan jumlah modal disetor tidak lebih dari Rp 30 Miliyar. Pencetak juga tidak diperbolehkan ialah industri dengan patokan selanjutnya: dikendalikan bagus langsung ataupun tidak langsung oleh sesuatu golongan upaya ataupun konglomerasi, industri terbuka ataupun anak industri terbuka, serta mempunyai kekayaan lebih dari 10 miliyar rupiah (tidak termasuk tanah dan bangunan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *